|
Halaman 1 dari 2 10% + 100% = Pantai Hijau, Sebuah Harapan Santa Maria Cirebon Peduli Lingkungan Sabtu, 17 Juli 2010 Hari Sabtu tanggal 17 Juli 2009 Sekolah Santa Maria Cirebon yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja 22 Cirebon melakukan kegiatan bakti sosial berupa penanaman 1.000 bibit mangrove (bakau) di Pantai Pesisir Kesenden yang termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Kebon Baru Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon. Penanaman bibit mangrove dilakukan dalam rangka penerimaan siswa baru dengan tujuan untuk menanamkan rasa cinta lingkungan dan untuk meningkatkan kepedulian para siswa terhadap kondisi alam pantai yang sungguh amat memprihatinkan (berdasarkan data dari salah satu media masa, 70% pantai Cirebon mengalami kerusakan). Dengan penuh semangat, para siswa baru yang terdiri dari siswa-siswi Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMA1, dan SMA2 Santa Maria Cirebon yang berjumlah sekitar 600 siswa berbondong-bondong menuju lokasi penanaman mangrove, para siswa TK dan SD diantar naik kendaraan, maklum masih kecil-kecil, sementara para siswa SMP dan SMA berjalan kaki. Tak ada raut wajah yang sedih, yang ada adalah canda tawa dan semangat dalam perjalanan menuju pantai meskipun terik matahari menyinari mereka.
Setiba di bibir pantai tiap siswa membawa satu bibit mangrove dan langsung menuju tempat y ang telah disediakan. Para siswa TK dan SD masih mendapat tempat yang agak kering, sedangkan siwa-siswi SMP dan SMA terpaksa harus masuk ke kolam lumpur yang menjadi jatah lokasi mereka. Ternyata lumpur yang ada tidak menjadi kendala. Dengan berkotor-kotor, bahkan ada anak yang masuk ke dalam lumpur berkedalaman sampai setinggi pinggang, mengakibatkan celana dan baju mereka penuh Lumpur, membuat mereka semakin asyik menanam bibit mangrove di sana serta mambantu teman-teman lainnya yang tidak berani turun ke kolam lumpur. Sungguh mengasyikan sekaligus mengharukan. Betapa tidak, mereka sehari-hari biasa berada di tempat bersih dan nyaman, tapi kali ini mereka bersedia masuk ke dalam tempat kotor demi ikut serta melestarikan lingkungan yang kian hari kian parah keberadaannya. Alhasil, setahun kemudian, Sabtu, 17 Juli 2010, mangrove yang ditananam masih ada yang tumbuh subur walaupun hanya sekitar 10 – 12,5 %. Sisanya menghilang, ada yang kering, ada yang terbawa oleh pasang surut air laut, mungkin juga ada yang hilang karena tangan-tangan iseng yang kurang bertanggung jawab. Namum sekolah Santa Maria Cirebon tetap berkomitmen untuk tetap ikut serta menghijaukan alam, khususnya wilayah pantai yang berdekatan dengan sekolah. Berdasarkan evaluasi bersama dari pihak sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Santo Dominikus, 10 -12,5% mangrove yang tumbuh tidak menjadikan sekolah putus asa, tapi sebaliknya bersepakat bagaimana caranya supaya mangrove tersebut tetap tumbuh dan semakin subur. Harapannya 10% mangrove yang sudah tumbuh + 100% bibit baru = pantai hijau. Gayung bersambut kata berjawab, kali ini upaya sekolah Santa Maria untuk kembali menanam bibit mangrove di tempat yang sama mendapat perhatian khusus dari Kementrian Lingkungan Hidup. Selain mendapat sumbangan 1.000 batang bibit mangrove, Kementrian Lingkungan Hidup pun mengutus wakilnya untuk hadir bersama para siswa, guru, karyawan, orang tua murid, dan staf Yayasan Santo Dominikus Cirebon. Selesai acara penerimaan siswa baru (kali ini Sekolah Santa Maria Cirebon menerima 602 siswa baru), Bapak Junius yang adalah Deputi VI Kementrian Lingkungan Hidup, menyampaikan sambutan yang mengungkapkan antara lain tentang pentingnya kita peduli terhadap lingkungan hidup. Penghijauan merupakan salah satu program pemerintah Indonesia dan ini harus juga menjadi program kita bersama. Beliau juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada sekolah Santa Maria serta kepada Yayasan Santo Dominikus yang telah ikut serta peduli terhadap lingkungan dengan melibatkan para siswa baru dari TK sampai SMA. Selesai menyampaikan sambutan, Bapak Junius menyerahkan bibit mangrove secara simbolis kepada Ketua Yayasan Santo Dominikus (Sr. M. Patricia OP) dan kepada perwakilan siswa dari tiap unit. Acara penyerahan bibit mangrove tersebut disaksikan pula oleh Asisten IV Kementrian Lingkungan Hidup (Bapak Gatot), Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Cirebon (Bapak Odi), Ketua Komunitas Pencinta Sungai (Bapak Bambang).  Acara penerimaan siswa baru selesai pukul 08.00, satu jam kemudian pukul 09.00 para siswa sudah sampai di Pantai Kesenden. Dengan didampingi guru dan beberapa orang tua murid anak-anak melakukan penanaman bibit mangrove mulai dari siswa Taman Kanak Kanak sampai SMA, juga tak kalah semangatnya, para kepala sekolah, guru, dan karyawan, serta para pejabat pemerintah pencinta lingkungan hidup ikut turun ke kolam lumpur yang menjadi lokasi penanaman bibit mangrove kali ini. Sr. Patricia OP, Sr. Hildegardis OP, Sr. Inocentia OP, Sr. Winefride,OP rela jubahnya menjadi kotor akibat masuk ke dalam lumpur dan kecipratan lumpur ketika mereka bersama-sama menanam mangrove bersama para siswa. Selesai penanaman mangrove acara pun dilanjutkan dengan tamah di sekolah Santa Maria antara para pejabat dari kementrian lingkungan hidup dengan Ketua Yayasan Santo Dominikus Cirebon serta para kepala sekolah dan beberapa undangan. Debur ombak Pantai Kesenden menjadi saksi ditanamnya bibit mangrove dan tetap akan menjadi saksi ketahanan hidup dan pertumbuhan mereka dari waktu ke waktu. Dengan berakhirnya kegiatan penanaman mangrove, semua kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Kita berharap dari 1.000 bibit yang ditanam entah berapa persen bisa bertahan hidup dan tumbuh subur menemani 10% yang sudah tumbuh dengan baik. Tapi yang jelas sekolah Santa Maria akan secara konsisten memantau pertumbuhan mangrove tersebut. Semoga upaya kecil ini menjadi inspirasi bagi kelompok masyarakat lain untuk turut serta peduli dan tergerak hatinya, serta secara nyata terlibat langsung dalam upaya pelestarian lingkungan hidup di bumi kita tercinta ini. Bumi kita memang sedang menangis dengan penderitaan yang dialaminya akibat ulah manusia yang semena-mena memperlakukannya. Padahal betapa baik dan betapa luar biasanya bumi melayani umat manusia. Mari kita hibur dan kita bantu agar bumi kita dapat tersenyum kembali dan bergairah kembali melayani umat manusia yang menjadi tuan dan menjadi penguasanya.
Ditulis oleh: Yakobus Sartam
|